Kamis, 15 Januari 2015

Ibu

Ibu
berjalan tertatih, dengan luka yang terus kau bawa lari
duka perih tak terperi, tak juga kau peduli
balutan jarit lusuhmu kian lapuk oleh peluhmu yang terus mengucur
melewati rongga kenyataan yang harus kau jalani, sendiri

engkau lebih memilih memikul status janda ditinggal mati
daripada dihantui rasa nelangsa jika anak anakmu berayah tiri
engkau lebih memilih mengasuh kami seorang diri
meskipun itu berarti , beban dari kami kau pikul sendiri

engkau adalah wakil Tuhan dibumi
sedang kami adalah anak – anak iblis yang malang
yang merasa enggan bersujud bersimpuh di bawah kakimu
hanya karena merasa kami sudah tidak butuh lagi gendonganmu
engkau tua renta dan hampir habis dimakan zaman
sedang kami adalah panah – panah masa depan, gilang gemilang

tiba – tiba dadaku sesak , mataku nanar perih tertahan
melihatmu kini keriput beruban, lesuh dan rabun
gambaran masa kecil yang mengengek di pangkuanmu kini terjabar
jelas terlihat di depanku, menghapus segala ego dan kecongkakanku

ibu, terimalah anakmu kembali
ijinkan aku mengusap peluh dan lukamu yang pedih
perkenankan aku untuk memikul bebanmu
pundakmu sudah lapuk dan bernanah ibu, istirahatlah….
Maaf ibu, kepulanganku terlambat …

Jogja, 22 desember 2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar