Kamis, 15 Januari 2015

Mampukah Akal ?

Dapatkah akal menjangkau kitab suci yang berkata Tuhan menciptakan dunia dan seisinya ini hanya 6 hari? Manusia, laut, bumi, langit, seisinya?

Mampukah akal mengkalkulasi bagaimana caranya 5 orang pemuda, bersama anjing piaraannya, dapat tertidur selama lebih dari 300 tahun lamanya?


Bisakah akal, dengan segala kemampuan indrawinya, mengungkapkan seorang ibrahim gagal terbakar api, seorang isa lahir tanpa pergumulan nafsu seorang ayah, seorang muhammad berjalan menaiki tangga langit hanya dalam waktu semalam, atau bahkan Sulaiman yang sanggup menangkap keluhan semut rangrang? Bisakah?


Apakah akal dapat meyakini bahwa kelak entah terjadi di tahun masehi keberapa, semua manusia, bumi dan seisinya dikabarkah musnah tanpa bekas? kembali menjadi abu seperti awal mula kejadian kehidupan, kabarnya…


Mungkin hanya soal waktu, kelak akal tetap dapat menjangkau segala kabar berita yang kebanyakan manusia enggan bahkan takut untuk menyebutnya “absurd”


Dahulu manusia hanya ingin terbang layaknya burung bul – bul, kini akal telah mampu merekayasa dengan dibuatnya jet tempur hingga finish mendahului burung, hewan yang menginspirasi akal untuk terbang…


Dahulu akal seakan tidak dapat menerima, bagaimana muhammad dengan menjijikan mencelupkan lalat kedasar gelas yang terisi air, dan ternyata kini akal sepakat jika sisi sayap lalat yang beracun, juga terdapat penawar di sisi sayap sebelahnya…


Tiba – tiba pintu didobrak, dengan muka merah padam dan pentungan di tangan Ia berujar : “ jangan sekali – kali kau berfikir demikian, itu perilaku kafir !! dan darah kafir adalah halal untuk dibunuh “


Setelah itu terdengar pekikan kalimat Tuhan dari urat lehernya yang hampir putus karena kerasnya, seketika itu aku hanya diam, kusulut “tegesan” batang rokok sisa kemaren, sembari menunggu Ia selesai berbicara sepuasnya…


Setelah puas mengeluarkan ayat – ayat dari Tuhannya dia yang dibawa oleh nabinya, Ia justru bingung melihatku hanya diam saja tanpa membalas, setelah rokokku hampir mencapai garis merk akupun berujar :


“wahai…, bukankah wahyu pertama yang diterima nabimu dari Tuhannya adalah “bacalah” ? dan bukankah Ia sesungguhnya adalah orang paling jujur sezamannya namun tidak bisa membaca dan menulis?


Apakah Tuhannya demikian bodoh dengan menyuruh kesayangan – Nya untuk membaca, padahal Tuhan sudah pasti paham jika Ia tidak dapat membaca? “


Orang tadi hanya diam, diambilnya bangku lusuh hampir reyot disampingnya, serta diletakkannya pentungan yang mungkin hendak ditebaskan ke kepalaku yang dianggapnya kafir agar tercurah segala isi kekafiran yang ada dikepalaku, kini rona wajahnya sudah memudar merah padamnya, tiba – tiba Ia berujar : “ maksudmu?”


Kini justru aku yang kaget demi perubahan sikapnya yang semula meledak – ledak, dalam hitungan menit menjadi bingung dan terlihat benar – benar ingin mengetahui makna dibalik ungkapanku, sejujurnya akupun sama sekali tidak paham dengan yang kuucapkan, akupun juga sedang dalam perselingkuhan diantara akal dan roh untuk mengerti alasan ungkapnku tadi…


Tapi aku beranikan untuk meneruskan kata – kataku : “Jika Tuhan benar – benar paham apa yang Dia ciptakan, dan Nabimu benar – benar seorang yang buta aksara, mungkinkah wahyu “bacalah” adalah ungkapan yang artinya tidak sesimple membaca aksara arab mengingat wahyu itu turun di tanah arab?”


“Jika mungkin demikian, apakah “bacalah” berarti menbaca pertanda, atas apapun saja segala kejadian yang telah tertelan waktu, atau membaca apapun saja sepersekian detik ini, saat ini.., atau bisa jadi membaca pertanda hal kejadian yang mungkin akan menimpa ?”


“Dan jikapun sangkaanku sementara ini benar adanya, tidakkah membaca pertanda hanya mampu ditanggung jawabkan hanya kepada mahluk yang mempunyai akal dan nafsu? Seperti kita? Dapatkan hewan di bebankan tanggung jawab tersebut? Dapatkah gunung, samudra, batu karang, debu, udara, api, bahkan malaikat sekalipun diserahi tanggung jawab membaca pertanda tersebut? Sedang kita tau wahyu itu tidak turun kecuali kepada nabi, mahluk sebangsa kita?”


Belum sempat aku meneruskan, Ia serta merta memotong pembicaranku, kali ini matanya demikian tajam merobek mukaku, : “ kenapa Anda bicara panjang lebar dengan selalu memakai kata “mungkin” ?, terlebih Anda berujar “jika mungkin sangkaanku benar” , apakah Anda sedang berpidato mempertanyakan keabsahan kitab suci tanpa alasan yang jelas? Sehingga Anda memakai kata “mungkin” agar terhidar dari tanggung jawab atas pemikiran Anda yang murtad itu?”


“Wahai…, aku memakai kata mungkin karena memang baru sampai situlah akalku bekerja, aku bahkan belum yakin apakah akalku menuntunku pada kebenaran yang mutlak, sedangkan akalku masih terus mencari jawaban atas kegelisahanku itu, yang kerap membuatku mengabaikan saran dokter untuk tidur 8 jam sehari, dan kata sangkaan adalah kata yang paling pas sebab semua itu memang sekedar sangkaan akalku saja, sedangkan aku masih heran sendiri dengan apa dan untuk siapa akalku bekerja, aku kerap memaksa akal ini untuk berhenti memikirkan hal – hal yang bisa saja tidak semua orang memikirkannya, karena memang sesungguhnya pertanyaan itu adalah pertanyaan orang bodoh yang kurang kerjaan”


“tapi ternyata bahkan aku sendiri tidak mampu memerintah akalku untuk berhenti memikirkan hal yang menurut kebanyakan orang remeh tersebut, hingga sampai pada tahap kesimpulan sementara, ya.. baru sementara , bahwa akalku barangkali ada yang memiliki, sebuah energi, entah apa dan bagaimana, yang berkuasa atas apapun saja kehendak akalku berfikir”


Dan diantara rona kebingungan namun masih sedikit menyisakan kecurigaan yang culas Ia berkata : “ Siapa Kau sebenarnya ? “



“Aku adalah Kau sebelum mencumbu dunia, Aku adalah Kau sebelum dimurtadkan oleh Ahli Agama yang hobi mengkotak – kotakkan Tuhan, sedang Tuhan melampaui Dunia dan Kerancuan Batas… !!! “ Desember 2014, jogja !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar