Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Januari 2015

Sayyidu wa Maulay

Sayyidu Wa Maulay …

Spiritualismemu sungguh tingkat tinggi
engkau bahkan mampu mencintaiku jauh sebelum aku terlahir
engkau menggadaikan sakaratul mautku bahkan sebelum aku menua

bolehkah aku melihatmu?
barangkali setelah melihat aku bisa mencintaimu
sebab..., daya tampung hatiku tak sanggup menderai cinta tanpa indra
lagipula..., apakah cinta tanpa indra? apakah suka tanpa mata?
aku sungguh tak tau itu....

katanya kau begitu rupawan, keringatmu wangi, benarkah?
kabarnya rambutmu ikal, hitam berkilau hingga pundak, begitukah?
kata mereka kau sangat sopan, hingga pedang dapat kau patahkan dengan senyuman.. mustahilkah?

aku lebih mengenalmu hanya dari kata mereka, atau paling jauh dari kitab lusuh yang samaknya hampir habis termakan rayap...
benarkah kau seperti kata mereka ? atau jauh lebih indah ?

aku tau hari ini kelahiranmu juga kata mereka,
meskipun aku tidak benar - benar yakin memang tanggal inikah kau terlahir ke alam fana..
lalu apa yang hendak kuberikan, pada mahluk yang tidak benar - benar kukenal?

apakah kau menghendaki kado seperti manusia jaman sekarang?
apa kau menungguku membawakan lilin untuk kau tiup seperti tradisi manusia _ yang entah siapa yang memulainya?

mungkin memang aku tidak benar - benar mencintaimu...
aku hanya rindu ... rindu wajahmu yang kutau dari halusinasiku..
aku hanya rindu ... padamu - Sayyidu wa Maulay Muhammad Ibn Abdullah SAW


januari, 2015 , jogja

Nasihat Usang

Nasihat Usang…

“tidak semua masalah harus kau simpan kedalam dada
Pun demikian pula terhadap harta yang kau merasa punya
Keduanya timbul sebab tertawannya raga
Keduanya ada sejak tertitipnya indera”

“bukankah dahulu…. Kau tidak butuh itu semua ?
Bukankah yang lalu… kau bahkan tak mengenal masalah juga harta ?
Bukankah saat itu, jauh sebelum wajahmu menjadi suram, kau bahagia sedemikian adanya ?

Dan apabila … dan itu pasti aku dan kamu akan menuju kesana
Bilamana kau kembali kesana ? akankah kedua mahluk tersebut kau bawa serta ?
Jika aku dan kamu sepakat bahwa mereka tidak juga menyerta kesana…
Lalu untuk apa masalah dan harta memenjarakanmu kali ini, disini berhari – hari ?

Akupun terpenjara olehnya … akupun terbuai gelimangnya …
Namun hanya karena aku tidak mampu melepaskannya, bukan berarti aku berharap semoga kau juga mengalaminya …
Aku tau hatimu lebih luas dari cakrawala , relung jiwamu lebih dalam dari penjara dajjal
Kau akan sanggup mengatasi itu semua … tidak padaku yang kebetulan tak seputih rohmu…

Rasakan desah kabut malam yang menggigilkan sanubari…
Tajamkan pandanganmu pada sinar fajar berpendar …
Lekas temukan hakikat hidup disana …

Sementara aku … aku tak mampu mengikutimu
Derap nafasku kian lengah … tak mampu membelakangi bayangangmu kesana…
Mungkin aku hanya akan menjadi bangkai…
Menjadi tumbal duniawi yang tamak dan dipenuhi belatung…
Memilih menjadi abdi munafik yang takut menyambut kebenaran …

Sementara kamu … kamu adalah cahaya …
Kamu adalah karang yang gagah berani memecah ombak…
Kamu adalah pedang yang mampu membelah kapas tanpa mengubah gerak angin disekitarnya…

Lekaslah kesana … dan memang tempatmu disana …
Bukan disini …

Jogja, januari 2015